# Bagian 05

DAO sering dipuja sebagai simbol masa depan organisasi: adil, transparan, tanpa bos.

Tapi seperti halnya teknologi lain yang penuh janji, DAO juga membawa **masalah-masalah baru** — bukan hanya teknis, tapi juga sosial, politik, dan etika.

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2FuSzk7mbv2m6Vj5bYWxZZ%2F06.png?alt=media&#x26;token=1d7d508a-6941-4cc5-9180-d85ee9602a7a" alt=""><figcaption><p>Tantangan dan Kritik terhadap DAO</p></figcaption></figure>

***

#### ⚠️ **1. Keamanan Smart Contract**

DAO dijalankan oleh *kode yang tak bisa dibohongi*. Tapi kode yang salah… bisa menjadi bencana.

* *The DAO Hack* adalah bukti bahwa bug kecil bisa menguras dana jutaan dolar.
* Smart contract bersifat immutable (tidak bisa diubah begitu saja) — jika ada celah, seringkali tak ada jalan mundur.
* Audit mahal, dan tak semua DAO mampu membayarnya.

**Catatan:** DAO yang paling sukses selalu menyisihkan anggaran untuk audit, dan membuat *tim penjaga protokol*.

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2FGm9u8cADMOu3jLYqGFqw%2F06a.png?alt=media&#x26;token=4762b97f-7b56-49cd-89c8-e484788baa31" alt=""><figcaption><p>Keamanan Smart Contract</p></figcaption></figure>

***

#### 📉 **2. Partisipasi Rendah**

DAO membuka partisipasi bagi siapa saja… tapi ternyata, tidak semua orang ingin (atau sempat) berpartisipasi.

* Banyak proposal DAO hanya di-vote oleh 5–10% pemilik token.
* Mayoritas hanya “memegang token” sebagai investasi, bukan sebagai alat demokrasi.
* Proposal besar bisa lolos atau gagal hanya karena kurang partisipasi, bukan karena buruk atau baiknya isi.

**Ini adalah ironi:**

Semakin besar DAO, seringkali partisipasi semakin turun — dan akhirnya kembali dikendalikan oleh minoritas aktif.

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2Fj8F90NlX7CxbP4Lb684n%2F06b.png?alt=media&#x26;token=fdc860e6-8e04-4ea0-bb10-762c86b947ef" alt=""><figcaption><p>Partisipasi Rendah</p></figcaption></figure>

***

#### 🐋 **3. Dominasi Whale (Paus Token)**

> “1 token = 1 suara” terdengar adil.
>
> Tapi bagaimana jika seseorang memiliki 1 juta token, dan lainnya hanya 10 token?

* DAO bisa dikuasai oleh para “whale” yang membeli banyak token.
* Voting bisa berubah jadi plutokrasi: yang kaya, yang berkuasa.
* Proposal yang masuk akal bisa kalah karena tidak didukung oleh elite token.

Solusi seperti **quadratic voting** mulai digunakan, tapi belum lazim dan punya tantangan tersendiri.

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2FsBe5Uyssu4plKdINXOrD%2F06c.png?alt=media&#x26;token=f9616d71-ca90-4c50-be24-c358f3975bb7" alt=""><figcaption><p>Dominasi Whale - Paus Token</p></figcaption></figure>

***

#### ⚖️ **4. Legalitas yang Abu-abu**

DAO menabrak batas-batas sistem hukum:

* Di banyak negara, DAO **belum diakui sebagai entitas hukum**.
* Siapa yang bertanggung jawab jika DAO melakukan penipuan? (apakah semua anggotanya bersalah?)
* Di beberapa kasus, pemerintah mulai menuntut DAO seperti perusahaan (contoh: kasus *Ooki DAO* di AS).

**DAO bukan di luar hukum — tapi hukum belum tahu bagaimana menghadapi DAO.**

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2FUUaJcKGGS8nO6Ul4YQNL%2F06d.png?alt=media&#x26;token=cfb13f62-835d-485d-9128-c580f56ae4a5" alt=""><figcaption><p>Legalitas yang Abu-Abu</p></figcaption></figure>

***

#### 🧩 **5. Kompleksitas dalam Pengambilan Keputusan**

Demokrasi butuh proses. Tapi ketika semua harus divote:

* Pengambilan keputusan bisa lambat
* Banyak proposal teknis terlalu rumit untuk dipahami rata-rata anggota
* Bisa muncul “fatigue” — anggota lelah membaca dan memilih

Akhirnya, banyak DAO membentuk **working group atau sub-komite** — mirip seperti “departemen” dalam organisasi tradisional.

DAO pun diam-diam menciptakan kembali struktur lama, tapi dengan wajah baru.

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2FRRL0BU1Ml8wmCv3UMjtj%2F06e.png?alt=media&#x26;token=2fa89438-588f-4774-8416-b1bb483bee15" alt=""><figcaption><p>Kompleksitas Dalam Pengambilan Keputusan</p></figcaption></figure>

***

#### 🤖 **6. Tantangan Identitas dan Akuntabilitas**

Karena DAO berbasis wallet dan pseudonim:

* Tidak semua anggota punya *track record* atau identitas jelas
* Sulit membangun kepercayaan dalam proyek jangka panjang
* Penipuan atau manipulasi bisa dilakukan dengan banyak wallet (*Sybil attack*)

**Tantangan baru:**

Bagaimana menggabungkan **kebebasan anonimitas** dengan **tanggung jawab kolektif**?

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2FhzOhbr57NDcG3LPDePVB%2F06f.png?alt=media&#x26;token=125b0502-b68e-404b-861e-2364cf83d8d4" alt=""><figcaption><p>Tantang Identitas dan Akuntabilitas</p></figcaption></figure>

***

#### 🎭 **7. DAO yang Sekadar Simbolik**

Sayangnya, banyak DAO yang hanya DAO “di nama saja.”

* Voting tidak punya efek nyata
* Tim core tetap membuat semua keputusan
* Token hanya gimmick, bukan alat pengambilan keputusan

DAO seperti ini hanya memperdagangkan jargon “desentralisasi” untuk legitimasi, bukan sebagai prinsip sejati.

<figure><img src="https://3439530428-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FSqWaKnh25i8wIxw7i36Y%2Fuploads%2F35GXSMKDtwb8pRsKVm9P%2F06g.png?alt=media&#x26;token=bd0a7e25-7d85-4db8-8670-66ad8ccde0ec" alt=""><figcaption><p>DAO yang Sekedar Simbolik</p></figcaption></figure>

***

### 🧠 Catatan Reflektif:

DAO bukan solusi untuk semua masalah organisasi.

DAO adalah **alat** — dan seperti semua alat, nilainya tergantung pada niat, desain, dan cara kita menggunakannya.

Kritik terhadap DAO tidak berarti menolaknya. Justru, dengan memahami tantangannya, kita bisa merancang DAO yang **lebih manusiawi, inklusif, dan bijak**.

Selanjutnya, mari kita lihat ke depan:

> Bagaimana masa depan DAO?
>
> Dan apakah DAO bisa menjadi tulang punggung masyarakat masa depan?

Kita lanjutkan ke **Bagian 6: Masa Depan DAO**.

***

P.S. Read this document freely for information and guidance. Do not redistribute or restate—no quotes, summaries, paraphrases, or derivatives—without prior written permission from [**Prof. NOTA**](https://nota.endhonesa.com/). Sharing the link is allowed. So, share the link, not the text. Do not discuss or re-tell the contents in any form—written, spoken, or recorded—without prior written permission.

***
